Life is never flat :)

Life is never flat :)

Sabtu, 30 Oktober 2010

about X - 2

Aku hanyalah seorang anak laki-laki biasa, tidak bisa menemukan teori relativitas seperti Einstein, tidak bisa melukis seperti Picasso, bukan musisi sehebat Rhoma Irama, aku juga bisa dibilang tidak pintar untuk anak seusiaku. Tapi karena itu, aku bisa melihat, kejeniusan-kejeniusan orang lain dengan mata kepala sendiri. Jenius bukan berarti harus bisa bergulat dengan angka, berkelahi dengan rumus, bemesraan dengan table periodic, dan memiliki IQ lebih dari 180.
Di kelas ku, kelas X-2, aku bertemu dengan para jenius cilik. Aku melihat seorang Einstein wanita, yang memiliki teori dan sudut pandang sendiri dalam mengerjakan setiap soal. Dia adalah seorang pendekar yang bersenjatakan ketajaman otak kiri, logika dan penalaranya adalah bagian dari senjatanya dalam pertarungan melawan Bu M*ry*m yang memakai kunci jawaban untuk mencari jawaban matematika. Saat ulangan, dialah yang memimpin papan klasemen nilai, apalagi dalam pelajaran matematika, kimia, dan sejenisnya.
Kalau masalah seni, kelas ini tidak kalah. Ujung tombak kami dalam seni jalanan adalah seorang anak laki-laki berambut ikal. Dia adalah Pelukis, yang memakai tembok untuk kanvas. Berbeda 180 derajat dari si gadis Einstein yang penalaranya sudah terasah, pencitraan seninya bagaikan sebuah molekul uranium, berkembang, mengganda, meluap-luap, dan siap meledak kapan saja. Ekspresinya khas seorang seniman, bergaya pakaian abstrak dengan rambutnya berantakan. Tanganya bagaikan puncak gunung berapi, siap melontarkan gambar-gambar imajinatif yang susah untuk ditiru, bahkan susah untuk dimengerti, namun indah untuk dilihat. Itulah seni.
Berikutnya adalah seorang maniak game, yang menjadi sang Romeo kelas, setia mengejar 1 wanita, memiliki semangat ’45 dalam mengejar gadis impianya. Dia memiliki 2 hati, karena saat yang satu terluka, dia masih bisa ceria, tegar, dan penuh semangat dalam menjalani hidup. Namun, biar begitu, aku pernah melihatnya terpuruk, dia seperti kerbau siap dipotong ketika bad mood; diam, tenang, tapi siap melakukan gerakan yang tidak terduga oleh si penjagal. Dia memiliki kelebihan EQ, yang membuatnya pintar mengatur api kemarahan.

( ini gue copas dri note Dicky D'Rogue Minoz yg pnulisnya adlh Taufik Amirullah )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar